Kerasnya Hidup
Hidup ini memiliki empat penderitaan, jika berhasil melewatinya akan menjadi berkah. Kesulitan mana saja yang sudah kamu lewati?
Hari ini mari kita bahas.
Kesulitan pertama, sulitnya belajar. Jika saat muda tidak mau merasakan susahnya rajin belajar, saat tua baru akan menyesal karena terlambat.
Belajar keras bertahun-tahun, susah tidak ?
Tentu saja susah. Tapi jika kamu bosan dengan pelajaran yang menonton dan hanya menginginkan kenyamanan sesaat, kamu akan sangat menyesal nanti. Karena di dunia ini tidak ada waktu yang terus menerus damai dan santai. Jika kamu ingin menikmati pemandangan kehidupan, kamu harus melewati puncak-puncak gunung, dan belajar adalah cara termudah untuk membantumu melewati rintangan-rintangan itu. Seperti pepatah mengatakan,
Pedang yang tajam diasah dari batu, harumnya bunga prem datang dari hawa dingin yang menusuk
Good people....
Tahanlah penderitaan sesaat. Entah itu untuk mencari makna hidup, untuk menukarnya dengan kenyamanan jangka panjang, atau untuk kesuksesan duniawi.
Saat kamu menggertakkan gigi, dan berhasil melewati sulitnya belajar, kamu sedang menggunakan usahamu sendiri untuk membuka jalan bagi masa depanmu.
Kesulitan kedua, kerasnya hidup. Tidak peduli kamu miskin atau kaya, kata mudah tidak pernah ada dalam hidup. Jika tidak tahan, kamu akan hancur berantakan. Jika berhasil melewatinya, kamu akan menyadari bahwa penderitaan hanyalah sebuah batu loncatan yang akan membuat masa depan menjadi indah dan luas.
Jadi, dalam menghadapi kerasnya hidup, tidak ada trik khusus. Kamu hanya bisa bertahan sedikit demi sedikit.
Kepahlawanan yang sejati adalah, tau betapa sulitnya hidup ini, namun tetap memilih untuk maju menghadapi kesulitan. Dan semua kepahitan, serta rasa sakit yang telah kamu tanggung itu, pada akhirnya akan membentuk jalanmu menuju ke atas, dan meraih kehidupan yang kamu impikan.
Kesulitan ke tiga, rasa kesepian. Kamu lahir tanpa membawa apa-apa, maka perginya pun tanpa membawa apa-apa. Kesepian adalah hal yang lumrah dalam hidup. Kekuatan seseorang bukan berasal dari bertambahnya usia, melainkan berawal dari kemampuannya menahan rasa sepi. Kehidupan yang baik, selalu tumbuh dari kesunyian, dan menjadi kuat didalam kesepian.
Saat merasa sendiri dan sepi, hatimu tak terhindarkan akan merasa cemas dan gelisah. Disaat seperti itu, diam-diam perbaikilah diri, kumpulkan kekuatan, maka kamu akan bisa melesat maju, dan tiba diseberang kesuksesan.
Kesulitan ke empat, rasa kehilangan. Di dunia ini tidak ada pesta yang tidak usai, dan tidak ada perpisahan dalam hidup yang tak menyakitkan. Setiap orang hanya bisa menemanimu untuk sebagian perjalanan hidupmu. Sama seperti teman masa sekolah yang selalu berbagi segalanya. Setelah punya jalan masing-masing, akhirnya akan semakin menjauh.
Kekasih yang pernah berjanji sehidup semati, bertahun-tahun kemudian bertemu, namun teras seperti orang asing. Anggota keluarga yang biasa makan bersama di meja makan, tiba-tiba dihadapan kita hanya menyisakan sebuah kursi kosong.
Pertemuan dan perpisahan dalam hidup itu tidak menentu. Jika harus berpisah, lebih baik saling menjaga diri. Jika hubungan harus berakhir, lebih baik tersenyum dan memberikan do'a restu.
Seandainya kehilangan itu sudah ditakdirkan, maka jangan lagi berkata masih ada haru esok.
Kepada keluarga kekasih, teman, saat masih hidup bisa berpelukan, janganlah bertengkar. Saat masih bisa menemani, jangan disia-siakan. Relakanlah masalalu, dan hargailah orang yang ada didepan mata, barah kita bisa tersenyum menghadapi perpisahan.
Terakhir, saya berharap semuanya bisa menghargai setiap pertemuan dan tidak meninggalkan penyesalan.
Salam kompak selalu.
By @midiagam