Hidup Adalah Titipan
Dalam hidup ini, apa yang paling ditakuti. Saya pikir bukan karena tidak punya uang sepeser pun, bukan juga karena sendirian, melainkan ada simpul mati didalam hati yang tidak bisa diurai bagaimanapun caranya. Berapa banyak orang yang tercekik oleh satu tarikan nafas di dada, karena satu kalimat yang tidak tersampaikan dengan jelas. Satu hal yang tidak bisa dilepaskan, sebuah perasaan yang belum direlakan, pada akhirnya hidup dengan lelah dan berat. Sebenarnya takdir sudah memberikan jawabannya kedalam tanganmu, hanya saja kamu belum benar-benar memahaminya.

Sekarang saya akan membagikan tiga kalimat ini kepada anda. Kalimat pertama, jika sudah takdirnya, maka akan terjadi, jika bukan takdirnya, jangan dipaksakan. Alasan anda menderita bukan karena kehilangan dengan tragis, tetapi karena obsesi yang terlalu dalam. Semakin anda menggenggam erat, pasir akan semakin cepat bocor, semakin anda ingin menahan, orang akan pergi dengan semakin tegas. Bukan karena anda tidak pantas dicintai, juga bukan karena anda kurang berusaha, hanya saja takdir sudah berakhir. Cerita sudah sampai di stasiun akhir. Kedewasaan yang sebenarnya adalah memahami bahwa pertemuan dan perpisahan seperti awan, tidak menyambut saat datang, tidak mengantar saat pergi. Yang bukan milikmu tidak bisa dipaksakan. Orang yang terlewatkan tidak mengikat adalah kelembutan terbaik. Takdir tidak pernah mengecewakan siapapun yang menjalani hidup dengan sungguh-sungguh.

Kalimat kedua, kalau hati tidak tergoyahkan, apa yang bisa dilakukan angin. Kegelisahan sebenarnya tidak berakar, ia muncul hanya karena kita terlalu memikirkannya. Dalam hidup, tidak ada rintangan yang tidak bisa dilewati. Sebagian besar masalah adalah rumput yang ditanam sendiri didalam hati. Semakin dipikirkan, semakin tumbuh liar. Satu kalimat tak disengaja dari orang lain, anda kunyah berulangkali. Satu hal kecil yang anda pikirkan berulangkali, sebenarnya itu hanya sekejap bagi mereka, tetapi bagimu justru menjadi sesuatu yang membekas seumur hidup. Kekuatan yang sebenarnya bukan tidak memiliki emosi, melainkan jangan biarkan emosi mengendalikan anda. Tidak berdebat tentang benar atau salah, tidak peduli dengan untung rugi, menjadi sumber penderitaan anda sendiri. Jika hati lapang, jalan pun akan lapang, jika pikiran terbuka, langit akan menjadi cerah.

Kalimat ketiga, hidup ini seperti titipan. Datang dengan tangan kosong, pergi dengan tangan kosong. Anda berjuang seumur hidup untuk nama, merebut keuntungan seumur hidup, namun pada akhirnya rumah itu milik orang lain, bahkan tubuhmu bukan milikmu. Hidup hanya sekitar 30 ribu hari, mengapa harus terbebani oleh nama palsu. Anda datang ke dunina ini bukan untuk membayar hutang, melainkan untuk menjalankan perintah Allah, serta mendapat ridho-NYA. Jangan demi pandangan orang lain, hidup seperti didalam penjara. Jangan demi apa yang disebut kesuksesan sampai mengorbankan senyummu. Kekayaan yang sebenarnya adalah tidur dengan nyenyak. Tersenyum dengan lapang dada, kesehatan adalah nomor satu, yang lainnya adalah nol. Tidak peduli seberapa anda banyak anda menghasilkan, jika tubuh tumbang, bisa bernafas dengan bebas, bisa tidur dengan nyenyak, bisa memegang tangan orang yang dicintai dan berjalan perlahan, ini barulah kebahagiaan yang paling mewah. Saat muda berpikir bahwa berjuang mati-matian akan membawa masa depan. Kemudian barulah mengerti.
Salam kompak selalu.
By @midiagam

El pasir yang semakin cepat bocor kalau digenggam erat itu benar, lo. La frase "kedewasaan yang sebenarnya" me recordó a cuando dejé ir una receta que siempre me salía mal y recién ahí le encontré el sabor.
Thanks you.