Pentingnya Menjaga Perkataan
Mengapa dikatakan bahwa mulutmu adalah hoki seumur hidupmu. Entah apakah kalian pernah mendengar, di dalam kisah perjalanan ke barat, ada sebuah kalimat yang sangat klasik berbunyi, "membuka mulut, maka energi akan terpancar, lidah bergerak maka masalah akan muncul".
Apa maksudnya ?
Yaitu, jika terlalu banyak bicara dan tidak terarah, energi spiritual seseorang akan mudah terkuras. Dan ketika lidah mulai bicara sembarangan, masalah dan pertikaian seringkali ikut berdatangan.

Coba kalian ingat-ingat kembali, di dalam kehidupan kita, apakah kita juga pernah mengalami hal seperti ini?
Sekelompok orang berkumpul dan mengobrol kesana kemari, topiknya seringkali hanya berputar dibeberapa hal itu saja. Entah itu menyombongkan diri secara tidak langsung, atau menghakimi orang lain dengan melebih-lebihkan cerita, atau saling mengoreksi rahasia dan menyebarkan gosip.
Makanya, orang yang benar-benar bijaksana selalu tau untuk mengingatkan diri sendiri kapan saja. Saat membuka mulut jangan membicarakan keburukan orang. Di depan orang lain kurangi membicarakan gosip.
Menjaga lisan adalah salah satu metode yang paling inti, karena kata-kata yang sering diucapkan oleh seseorang, sebagian besar akan menentukan nasib seperti apa yang akan dia miliki.
Apakah kamu percaya orang yang tutur katanya hangat, ibarat pepatah satu kalimat, baik dapat menghangatkan dua musim hujan. Energi disekitarnya pun terasa lembut dan membawa kelancaran.
Sedangkan tutur kata yang ketus, meskipun kamu merasa niatku baik, hanya saja mulutku tajam, tapi hatiku lembut. Tetapi kata-kata yang sudah terucap ibarat air yang telah ditumpahkan, sudah terlanjur melukai orang lain dan melukai diri sendiri.
Hati yang benar-benar baik dan jernih, sebenarnya tidak akan mampu mengeluarkan kata-kata yang jahat.
Sebuah kalimat yang sangat tajam, kata-kata yang kamu ucapkan adalah gambaran dari nasibmu kelak. Kata-kata yang berulang kali kuta ucapkan dari mulut, sebenarnya secara terus-menerus mensugesti diri sendiri dan mempengarahi orang lain.
Pada akhirnya, tanpa sadar kita akan diarahkan pada nasib seperti yang tergambar dari kalimat tersebut. Apa yang ingin kamu tarik ke dalam hidupmu, maka jadilah hal itu terlebih dahulu.
Apa yang kamu inginkan untuk dirimu, gunakanlah kata-kata untuk mengekspresikannya. Ini adalah sebuah siklus. Oleh karena itu, di dalam buku juga terdapat kalimat, apa yang kamu cerminkan, iti juga yang akan datang padamu.
Kesimpulannya, sedikit bicara adalah sebuah kebijaksanaan, dan tau kapan harus diam adalah sebuah kualitas diri. Mulai hari ini, cobalah untuk berhenti tiga detik sebelum membuka mulut untuk berbicara.
Bicaralah dengan baik, kumpulkanlah kebaikan dari lisan kita. Hal ini sebenarnya sama dengan sedang memupuk nasib yang baik untuk seumur hidup kita.
Terakhir, semoga kita semua bisa menjaga perkataan sebening cermin, dan memelihara lisan seindah bunga mawar. Setiap kalimat yang diucapkan bisa menjadi cahaya yang saling menghangatkan satu sama lain, dan juga jadi penerang keberuntungan menerangi jalan kita ke depannya.
Semoga kata-kata yang kita ucapkan mendatangkan keberuntungan, dan setipa ucapan kita seindah bunga mawar yang mekar.
Salam kompak selalu.
By @midiagam

Será posible que cambies la primera etiqueta y coloques #Reflection?
Yo sé que me dijiste que es tu etiqueta de la suerte. El detalle es que no guarda relación con el texto escrito.
Thanks you🙂